AUM SWASTIASTU! SELAMAT DATANG DI BLOG PASRAMAN EKA DHARMA

Kamis, 24 Oktober 2013

Bekerja Dalam Kesadaran




Anyad evahur vidyaya
Anyad ahur avidyaya,
Iti susruma dhiranam
Ye nas tad vicacaksire
[Sloka 10 Isa Upanisad]
Artinya:
Sesungguhnya dikatakan lainlah akibatnya untuk vidya,
lain pula dikatakan akibatnya untuk avidya,
demikian didengar dari yang Maha Mengetahui,
dijelaskan kepada kami.

Setiap orang mempunyai kewajiban untuk melakukan kerja dan usaha dalam kehidupannya. Hal ini dikarenakan manusia dan semua makhluk ciptaan dibelenggu dan diikat oleh lingkaran karma atau kerja. Bhagawan menciptakan segala makhluk beserta segala isinya tak terlepas dan lingkaran kerja atau karma.

Tuhan sendiri menjadi teladan bagi setiap umat manusia dan ciptaan untuk dapat melakukan kewajiban sebagaimana yang diamanatkan. Tuhan dalam segala aktifitasnya memberikan amanat kepada ciptaan untuk selalu berada dalam level kesadaran. Di sini maksudnya, tindakan yang dilakukan haruslah memberikan efek positif terhadap dunia atau alam semesta. Orang-orang bijaksana diharapkan bertindak dengan penuh kesadaran karena mereka yang berpengetahuan dalam segala tindakannya mampu membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang kekal dan tidak kekal. Sehingga mereka yang berpengetahuan menikmati kebahagiaan jiwa nan abadi.
Mereka yang tidak berpengetahuan melakukan tindakan berdasarkan pada nafsu dan ketamakan serta dikaburkan oleh selaput ilusi dan maya yang begitu tebal, sehingga dalam segala tindakannya menjadi penuh keragu-raguan dan kebingungan. Tuhan mengajarkan kepada manusia untuk menjadi manusia yang berbudi dengan segala tindakan yang dilakukannya. Artinya manusia diharapkan kembali kepada kesadaran Tuhan dalam melaksanakan segala tugas dan kewajibannya. Karena hanya manusia yang bersandar kepada kesadaran Tuhan-lah akan dapat mencapai kebahagiaan dan kedamaian abadi, mengalami pencerahan dan mencapai penyatuan kehadapan-Nya. Manusia menjadi takabur akan segala kekuatan dan kemampuan phisiknya, karena mereka sesungguhnya belum mencapai tingkat kesadaran Tuhan, sehingga tindakan atau karma yang dilakukannya bersandar pada keakuan, keangkaramurkaan, keegoisan dan kepalsuan.
Manusia dengan kelebihannya dan kemampuannya dalam mempertimbangkan mana yang kekal dan mana yang tidak kekal, antara yang baik dan tidak baik (Viveka), maka manusia harus mampu melepaskan diri dari kepalsuan dan kebodohan yang dapat menarik dan menjerat kehidupan ke alam neraka ini. Karena hanya manusia yang telah mampu menyadari keberadaan Tuhan yang eksis akan dapat melepaskan dirinya dari lingkaran penderitaan dan kesengsaraan. Penderitaan adalah lingkaran karma yang timbul dari kebodohan dan kegelapan. Oleh karena itu berkarma dengan kesadaran itu menjadi sangat penting, disebabkan kerja atau tindakan atas dasar kesadaran dengan karma yang dilakukan tanpa kesadaran hasilnya akan berbeda. Mereka yang bertindak atas kesadaran atau atas dasar pengetahuan, maka mereka akan datang dan kembali kepada pencerahan dan kebahagiaan tapi mereka yang bertindak dikaburkan oleh maya, kegelapan, dan kebodohan akan datang dan kembali pada kegelapan itu sendiri. Tetapi dalam kenyataannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan tidak bisa terlepas dari dwalita kehidupan ini. Yakni antara baik dan buruk, susah dan senang, cerah dan redup dan lainnya. Maka manusia mempunyai tugas dan peran yang sangat besar dalam kehidupannya, yakni membebaskan diri dari dwalita kehidupan. Tugas inilah yang paling berat.

Permasalahan ini muncul dan memang ada pada setiap ciptaan akan tetapi menjadi lebur dan menyatu pada manusia bijaksana yang telah mencapai pencerahan dan peningkatan spiritual. Tuhan sangat mencintai manusia dan setiap saat hadir bersamanya, menyertai kehidupannya, hingga akhir hayat, namun terkadang manusia tidak menyadarinya dan tetap menyalahkan Tuhan ketika dirinya ditimpa musibah dan malapetaka. Tuhan selalu hadir di dalam dirinya sebagai atma yang agung dan hadir pula di setiap langkah dan juga ada dan hadir di sekelilingnya dipenuhi oleh Tuhan, sehingga mereka yang berada pada level kesadaran Tuhan akan dapat merasakan kebahagian dan kedamaian di mana-mana.

Mereka yang telah menyadari hal ini, mampu menerima apa yang sepantasnya mereka terima sebagai lingkaran karma dalam kehidupannya. Mereka menjadi bahagia dengan segala seluk-beluk kehidupan dunia ini. Mereka dengan iklas membuka tangan perdamaian untuk saling merangkul satu dengan yang lainnya sebagai satu keluarga besar kemanusiaan dengan tanpa membedakan suku agama, warna kulit dan sebagainya. Yang dalam bahasa Veda disebut Basudeva Kutumbhakam.
Tindakan kebodohan manusia adalah, sulitnya menerima apa yang sepantasnya mereka terima dalam kehidupan ini. Sehingga muncul penderitaan hidup. Memang sangat sulit untuk menjadi iklas menerima segala cobaan hidup ini, karena untuk bisa seperti itu manusia harus siap lahir batin. Itulah sebabnya mengapa banyak di antara kita ingin melepaskan diri dari penderitaan. Yakni dengan melakukan berbagai olah tapa, karma dan kebaktian kehadapan Tuhan itu sesungguhnya salah satu bentuk dan usaha untuk melepaskan diri dari segala cobaan hidup yang akan menghantamnya. Di sinilah manusia menjadi penting bertindak berdasarkan pada pengetahuan yang baik untuk nantinya dapat mengantarkan pada penyatuan dan kelepasan dari segala bentuk penderitaan duniawi. 

(Penulis, I Wayan Dateng, Indra Udayana Institute of Vedanta Ashram Gandhi Puri). Juli 2009 – Raditya 144.



HARI RAYA GALUNGAN DAN KUNINGAN




Print
E-mail

Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.


Kata "Galungan" berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama: manis.

Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu populer dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti.

Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya: Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba — entah apa dasar pertimbangannya — pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi keti-ka Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek.

Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata, Raja Sri Jayakasunu mendapatkan pawisik atau "bisikan religius" dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendek karena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.

Sumber: Buku "Yadnya dan Bhakti" oleh Ketut Wiana, terbitan Pustaka Manikgeni)